7 Aspek Perkembangan Balita

7 Aspek Perkembangan Balita – Ketika usianya bertambah, kemampuan balita juga terus bertambah. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan anak. Ada 7 aspek perkembangan pada balita, yaitu aspek perkembangan gerakan (motorik) kasar, aspek perkembangan gerakan (motorik) halus, komunikasi pasif, perkembangan kecerdasan (kognitif), kemampuan menolong diri sendiri, dan perkembangan sosial.

Perkembangan anak balita

1. Perkembangan Gerakan (Motorik) Kasar
Gerakan (motorik) kasar adalah semua gerakan yang dapat dilakukan oleh sebagian besar anggota tubuh dan memerlukan tenaga yang besar. Gerakan tersebut misalnya tengkurap, merangkak, berjalan, dan berlari.

2. Perkembangan Gerakan (Motorik) Halus
Gerakan (motorik) halus adalah gerakan yang hanya dilakukan oleh bagian-bagian tubuh tertentu dan memerlukan tenaga sedikit saja. Misalnya menggunting dan menempel kertas, menggambar, menulis, gerakan mengambil benda menggunakan jari tangan, dan memasukkan benda ke dalam botol.

3. Komunikasi Pasif
Anak tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, anak harus melakukan komunikasi dengan orang disekitarnya. Pada bayi, komunikasi dilakukan secara pasif, yaitu melalui perubahan raut wajah dan gerakan tubuh. Melalui komunikasi pasif ini, keadaan bayi dapat dimengerti orang lain.

4. Komunikasi Aktif
Komunikasi aktif silakukan dengan cara mengucapkan kalimat-kalimat, berbicara atau bernyanyi. Pada usia di bawah 1 tahun, anak belum dapat melakukan komunikasi aktif. Kemampuan berkomunikasi aktif ini harus dilatih secara terus-menerus dengan cara mengenalkan kata-kata dan selanjutnya anak diminta mengucapkan kata tersebut. Setelah anak dapat mengenal dan mengucapkan sejumlah kata-kata maka orang tua dapat melatih anak untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat.

5. Perkembangan Kecerdasan (Kognitif)
Kemampuan berpikir anak berkembang melalui kelima indranya, yaitu mata, telinga, lidah, kulit, dan hidung. Anak dapat melihat berbagai macam bentuk dan warna, mendengarkan bunyi-bunyian, serta mengenal macam-macam rasa menggunakan indranya. Daya pikirnya mengenai segala sesuatu yang ada di sekitarnya pada mulanya masih terbatas pada hal-hal yang konkrit, yaitu yang dapat dilihat atau dapat dipegang. Melalui kegiatan bermain, orang tua dapat mengajarkan berbagai konsep secara bertahap. Misalnya mengenal konsep tentang benda (meja, kursi, piring, gelas, sendok), konsep warna (merah,kuning, biru), dan konsep bentuk (bulat, kotak, segitiga). Berdasarkan konsep-konsep baru yang dikenalnya memungkinkan anak tersebut menggunakan pemikiran yang sifatnya abstrak. Misalnya konsep sama-berbeda, bertambah-berkurang, dan sebab-akibat.

6. Kemampuan Monolong Diri Sendiri
Pada awal kehidupannya, seorang bayi masih bergantung pada orang lain untuk memenuhi semua kebutuhannya. Bayi harus digendong jika ibunya ingin mengajaknya melihat pemandangan di luar rumah. Ibu harus memberi ASI atau menyuapi bubur ketika lapar. Ketika usia anak semakin bertambah, kemampuan melakukan gerakan juga semakin baik, misalnya kemampuan berdiri dan berjalan. Setelah mempunyai kemampuan tersebut, sudah saatnya anak dilatih kemandiriannya. Kebiasaan menggendong harus mulai dikurangi sehingga anak semakin terampil berjalan. Dengan demikian, otot-otot kakinya juga semakin kuat. Kemandirian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga perlu dilatih secara bertahap.

7. Perkembangan Sosial
Biasanya seorang bayi sehari-hari bersama orang tuanya. Seiring bertambah umurnya sebagai orang tua memiliki kewajiban untuk mengajak anak untuk bermain bersama teman-temannya. Entah hanya bermain main-mainan atau lain sebagainya. Sosialisasi awal tersebut akan berdampak baik pada anak, namun orang tua harus berhati-hati dan menjaga anak dalam memilih permainan yang baik untuknya. Sebaiknya selalu jaga anak sewaktu bermain bersama temannya. Perlu pula dikenalkan aturan-aturan sopan santun dan disiplin. Pengalaman memiliki banyak teman akan memperoleh pengalaman yang semakin luas dan semakin banyak karakter yang ia akan kenal.

Masa Pertumbuhan Balita

Masa Pertumbuhan Balita – Pertumbuhan balita secara fisik dapat diketahui dengan cara menimbang berat badan, mengukur tinggi badan, serta lingkar kepala. Bayi yang baru lahir mempunyai berat badan normal kurang lebih 2,5-3 kg. Setelah beberapa hari bayi lahir, berat badannya biasanya agak turun. Berat badannya akan kembali lagi seperti waktu lahir pada hari ke-10. Hal ini terjadi karena bayi harus beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Apabila mendapatkan gizi makanan yang baik maka berat badannya akan terus bertambah. Pertambahan berat badan anak setelah berusia satu tahun berlangsung dengan pesat sampai usia 18 tahun. Setelah mencapai usia 18 tahun, berat badan cenderung tetap selama kondisi tubuh sehat.

Menurut Behrman (1992) untuk memperkirakan berat badan anak dapat digunakan rumus berikut.
1. Bayi lahir = 3,25 kg
2. Anak usia 3-12 bulan = (umur (bulan) + 9) : 2
3. Anak usia 1-6 tahun = usia (tahun) x 2 + 8
4. Anak usia 6-12 tahun = (umur (bulan) x 7 – 5) : 2

Penimbangan berat badan pada balita perlu dilakukan secara berkala. Penimbangan ini berfungsi untuk mengetahui kondisi pertumbuhan yang sehat. Berat badan balita yang mengalami pertumbuhan sehat dapat dilihat pada grafik berat badan dalam KMS. Anak yang tumbuh sehat berat badannya mengalami kenaikan terus-menerus dari waktu ke waktu. Pertumbuhannya tidak sehat jika berat badannya tidak bertambah atau turun jika dibandingkan dengan berat badan saat penimbangan sebelumnya. Jika hal ini terjadi maka orang tua perlu mengonsultasikan kondisi kesehatan anaknya dengan petugas kesehatan terdekat.

Pertumbuhan badan anak

Gambar: Grafik Pertumbuhan badan anak

Pada grafik diatas tinggi badan bayi pada waktu lahir rata-rata 50 cm. Tinggi badan bertambah dengan cepat sampai anak berusia 14-15 tahun. Setelah usia tersebut, pertambahan tinggi badan melambat dan berhenti tumbuh pada usia 18 tahun. Perkiraan tinggi badan anak menurut Behrman, 1992 sebagai berikut:
1. Bayi lahir = 50 cm
2. Anak usia 1 tahun = 50 cm
3. Anak usia 2-12 tahun = (usia (tahun) x 6) + 77

Berdasarkan perbandingan antara kepala, badan, dan anggota gerak maka ada perbedaan antara janin, bayi, dan orang dewasa. Pada janin ukuran panjang kepala hampir sama dengan panjang badan ditambah panjang kaki. Dengan demikian, kepala terlihat besar dan memanjang. Pada waktu lahir, kepala masih terlihat besar. Jika diukur, panjang antara tali pusat ke ujung kepala sama dengan panjang tali pusat ke ujung kaki. Setelah dewasa, anggota gerak terlihat lebih panjang dan kepala terlihat lebih kecil.

Tumbuh kembang anak

Gambar: Tumbuh kembang anak

Lingkar kepala pada waktu lahir rata-rata 34 cm. Ukuran lingkar kepala bertambah dengan pesat sampai usia 6 bulan. Pada anak laki-laki usia tersebut, ukuran lingkar kepala rata-rata 44 cm. Jadi, pertambahan ukuran lingkar kepala selama 6 bulan pertama yaitu 10 cm. Pertumbuhan ukuran lingkar kepala dari 6 bulan sampai usia 2 tahun mulai agak lambat. Selanjutnya pada usia 2 tahun hingga dewasa, pertambahan ukuran lingkar kepala semakin lambat. Pada laki-laki dewasa, ukuran lingkar kepala rata-rata 59 cm.

Pertumbuhan Lingkar Kepala

Gambar: Grafik Pertumbuhan Lingkar Kepala

Berat otak berkaitan dengan berat tubuh, orang yang berbadan besar memounyai otak yang lebih besar pula. Otak tumbuh dengan cepat pada masa anak-anak dan usia 20 tahun, pertumbuhannya lambat dan akhirnya mengalami penurunan berat pada usia 40 tahun ke atas. Penurunan ini disertai dengan hilangnya fungsi ingatan sedikit demi sedikit.

Gigi bayi tumbuh pada usia yang berbeda-beda. Beberapa bayi mengalami pertumbuhan gigi pada usia 3 bulan. Namun, ada pula yang baru tumbuh giginya pada usia 1 tahun. Pada umumnya gigi bayi tumbuh pada usia 7 bulan. Gigi pada balita ini dinamakan gigi susu. Gigi susu tumbuh satu per satu secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan usianya. Gigi susu terakhir tumbuh ketika anak berusia 2-3 tahun. Gigi susu pada anak-anak seluruhnya berjumlah 20 buah.