Diagnosa penyakit DBD

Diagnosa penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue) – Secara umum, ada dua macam pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis penyakit DBD secara laboratoris, yaitu sebagai berikut di bawah ini:
- Deteksi virus, yang dapat dilakukan melalui metode pembiakan (kultur) dan tes PCR (Polymerase Chain Reaction).
- Deteksi serologis, yaitu untuk mendeteksi adanya aantibodi terhadap virus dengue (antibodi antidengue).

Metode deteksi virus melalui Kultur
a. Metode kultur

Diagnosa Dengue

Diagnosa Dengue

Deteksi virus dengue dengan pemeriksaan kultur adalah tes diagnostik pasti (definitif), tetapi pertimbangan praktis membatasi penggunaannya. Yang harus diperhatikan adalah singkatnya periode ketika virus dengue dapat dideteksi dengan baik. Dalam 1-2 hari setelah penurunan suhu tubuh, peningkatan kadar antibodi antidengue memengaruhi upaya untuk mengultur virus. Selanjutnya, seperti telah disebutkan di atas, virus dengan secara umum sangat labil terhadap panas (termolabil). Karena itu, kewaspadaan khusus dibutuhkan untuk mencegah inaktivasi virus karena panas. Rumit dan mahalnya metode ini, menyebabkan metode ini jarang digunakan, kecuali untuk kepentingan penelitian.

b. Metode deteksi virus dengan teknik PCR
Saat ini, upaya deteksi adanya infeksi oleh virus dengue tidak lagi terbatas mengadalkan metode kultur virus konvensional, tetapi juga dengan metode reaksi berantai polimerase atau yang lebih akrab disebut teknik PCR. Teknik PCR adalah suatu metode enzimatis untuk melipatgandakan secara eksponensial suatu sekuen nukleotida (bagian dari gen) tertentu secara in vitro (di luar tubuh organisme hidup; misalnya di dalam tabung reaksi-peny).

Metode ini kali pertama dikembangkan pada 1985 oleh Kary B. Mullis, seorang peneliti di perusahaan CETUS corporation. Metode ini sekarang telah banyak digunakan untuk berbagai macam analisis dan rekayasa genetika. Pada awal perkembangannya, teknik ini ditujukan untuk melipat gandakan molekul DNA, tetapi kemudian pula untuk melipatgandakan molekul RNA.

Prinsip diagnosis laboratoris penyakit DBD dengan teknik PCR adalah untuk melacak susunan RNA virus dengue. RNA virus dengue diperoleh dari ekstaksi serum, plasma darah, atau sel dari jaringan tubuh yang terinfeksi virus dengue. Di Indonesia, Pusat Studi Bioteknologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, mengembangkan suatu teknik deteksi virus dengue teknik PCR, yang disebut teknik Multiplex RT-PCR yang dapat mengidentifikasi virus dengue pada pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) hanya dalam waktu empat jam.

Deteksi virus dengue dengan teknik ini diharapkan mampu mempercepat diagnosis virus penyebab penyakit DBD, dn secara langsung akan mampu mempercepat pula pemberian terapi yang tepat. Sebagaimana kita ketahui, di Indonesia virus dengue tipe 3 adalah tipe yang patut diwaspadai karena berhubungan dengan kasus-kasus DBD yang fatal.

Jika dibandingkan dengan teknik Multiplex RT-PCR, deteksi secara konvensional melalui media kultur sel setidaknya diperlukan waktu satu minggu untuk mengidentifikasi tipe virus dengue yang menginfeksi pasien, apakah virus dengue 1,2,3 atau tipe 4, yang masing-masing memerlukan penanganan yang berbeda. Hal ini tentu amat merugikan karena memperlambat diagnosis dan pemberian terapi yang cepat dan tepat. Namun, sayangnya biaya pemeriksaan Multiplex RT-PCR yang sekitar RP 300.000 ini, dirasakan masih terlalu mahal bagi sebagian besar masyarakat. Semoga pada masa mendatang, biaya pemeriksaan ini akan lebih terjangkau.

Metode deteksi Serologis
Saat ini ada lima metode deteksi serologis yang dapat dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang penyakit DBD, yaitu:
- Uji penghambatan penggumplan darah atau Hemmogulutination Inhibition Test (uji HI);
- Uji pengikatan komplemen (Complement Fixation test);
- Uji Netralisasi;
- Uji Mac. Elisa;
- Uji IgG Elisa tidak langsung (indirek);

Uji HI

Nyamuk Dengue

Nyamuk Dengue

Uji HI merupakan uji serologis yang paling banyak dipakai secara rutin, karena relatif mudah, sederhana, dan biayanya sangat terjangkau masyarakat luas. Ketika seseorang terinfeksi virus dengue, akan terbentuk kekebalan HI (antibodi HI). Antibodi HI ini akan tetap berada di dalam sirkulasi darah penderita penyakit DBD selama lebih dari 50 tahun. Fakta ini bermanfaat bagi penelitian epidemiologi.

Antibodi HI biasanya akan timbul dan dapat dideteksi pada hari kelima atau keenam timbulnya demam, yaitu pada saat mencapai tingkat konsentrasi (titer) 10. Pada infeksi sekunder virus dengue tipe lainnya, titer ini dapat mencapai 5.120 sampai 10.240 pada hari pertama demam.

Uji pengikatan Komplemen
Uji ini tidak banyak dipakai secara rutin karena relatif rumit dan membutuhkan keahlian yang tinggi. Ketika seseorang terinfeksi oleh virus dengue, terbentuk antibodi pengikat komplemen yang dapat dideteksi setelah antibodi HI timbul. Namun, antibodi pengikat komplemen ini cepat menghilang dari darah, sekitar 2-3 tahun pasca-infeksi virus dengue.

Uji Netralisasi
Uji netralisasi merupakan uji serologis yang paling sensitif dan spesifik untuk infeksi dengue dibandingkan dengan uji serologis lainnya. Tipe uji netralisasi yang dianggap paling baik adalah yang dikenal sebagai Plaque Reduction Neutralization Test (PRNT).

PRNT adalah uji netralisasi berdasarkan adanya reduksi plak yang terjadi sebagai akibat upaya antibodi tubuh penderita penyakit DBD melakukan netralisasi terhadap infeksi virus dengue. Umumnya, antibodi netralisasi ini muncul bersamaan atau sedikit lebih lambat daripada HI, tetapi lebih cepat daripada pengikat komplemen. Antibodi ini juga dapat bertahan hingga lebih dari 50 tahun di dalam darah penderita penyakit DBD. Sayangnya, uji PRNT tidak dapat dilakukan secara rutin disebabkan mahalnya biaya serta caranya yang sangat rumit dan membutuhkan keahlian tinggi.

Uji Mac Elisa
Metode deteksi antibodi antidengue (IgM dan IgG antidengue) degan metode Mac Elisa kini jauh lebih banyak digunakan dalam praktik sehari-hari. Uji ini berdasarkan adanya antibodi IgM antidengue pada serum penderita yang ditangkap oleh gout antihuman IgM yang sebelumnya dilekatkan pada suatu permukaan kasar, misalnya plastik atau plate dari plastik. IgM dan IgG antidengue dapat terdeteksi kira-kira pada hari kelima timbulnya demam.

Ada dua pola response yang terjadi pada seseorang yang terinfeksi virus dengue, yaitu respons imunitas primer (pada saat terinfeksi virus dengue pertama kali), dan sekunder. Jika seseorang belum pernah terinfeksi oleh virus famili flaviviridae, dan juga belum pernah mendapatkan imunisasi dengan vaksin flavivirus (misalnya vaksin untuk penyakit demam kuning, ensefalitis jepang, dan sebagainya) akan menunjukkan response imun primer ketika terinfeksi virus dengue untuk pertama kalinya. Namun, jika orang tersebut terinfeksi oleh virus dengue tipe lainnya, response imun sekunder akan memainkan perannya.

Respons imun primer ditandai dengan kadar (fraksi molar) IgM antidengue yang tinggi, dan IgG antidengue yang rendah. Adapun yang terjadi pada respons imun sekunder adalah sebalinya. IgM antidengue mulai terdeteksi pada hari ketiga penurunan suhu tubuh. Sebesar 80% IgM antidengue terdeteksi pada hari ketiga penurunan suhu tubuh. Sebesar 80% IgM antidengue terdeteksi pada hari kelima panas badan, dan 99% pada hari kesepuluh demam.

Uji IgG indirek
Uji IgG secara indirek merupakan uji serologi yang identik dengan uji HI, tetapi memiliki tingkat kepekaan (sensitivitas) yang lebih tinggi. Metodenya relatif sederhana, dan dapat dilakukan untuk memeriksa sempel dalam skala massal. Kekurangan uji IgG Elisa indirek, seperti halnya uji HI, adalah tidak spesifik. Dapat terjadi reaksi silang oleh flavivirus yang lain, dan juga tidak dapat digunakan untuk menentukan tipe virus dengue yang menginfeksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


− two = 6

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>