Gerakan air laut

Gerakan air laut – Air laut selalu bergerak dan mengalami sirkulasi/perputaran. Gerakan air laut menyebabkan terjadinya: ombak, arus laut, pasang naik, dan pasang surut.

Ombak
Ombak atau gelombang terjadi karena tekanan dan gesekan angin terhadap permukaan air laut. Besar kecilnya ombak sangat tergantung pada kedalaman laut dan kekuatan angin. Hempasan ombak yang kuat dan terus menerus terhadap sebuah pantai, menyebabkan terjadinya pengikisan terhadap pantai tersebut. Proses tersebut kemudian kita kenal dengan abrasi. Di pantai-pantai yang terjal, seperti pantai selatan Pulau Jawa, abrasi dapat memperterjal pantai. Pantai yang memiliki tebing terjal semacam ini disebut cliff.

Arus Laut
Laut tak ubahnya seperti sungai. Airnya selalu bergerak, sehingga ada arus laut. Karena lebarnya lautan, maka alur arus laut dapat bergeser, meskipun arahnya tetap. Di daerah pantai, arah arus dapat terganggu dengan adanya tanjung, teluk, atau pun pulau. Karena gangguan itulah, maka memungkinkan terbentuknya berbagai gejala pantai, seperti tombolo, danau laut (laguna), kikisan pantai (abrasi), dan endapan yang memungkinkan tumbuhnya tanaman bakau (mangrove). Bentuk pantai tertentu dapat menyebabkan terjadinya arus berputar. Ada putaran air yang disebut vortex, yaitu putaran air tercepat di bagian luar, dan eddy yaitu putaran air tercepat di bagian dalam. Adanya putaran air laut tersebut menyebabkan air laut mampu menarik benda-benda yang terapung seperti kapal menjadi tenggelam.

Pasang Naik dan Pasang Surut
Air laut naik atau turun terutama akibat adanya pengaruh gaya tarik bulan. Dalam satu hari (24 jam) terjadi dua kali pasang naik dan dua kali pasang surut. Pasang purnama merupakan pasang naik setinggi-tingginya yang terjadi pada saat bulan baru dan bulan purnama. Pasang perbani merupakan pasang naik sekecil-kecilnya, terjadi pada minggu kedua dan keempat tiap bulan. Peristiwa pasang perbani terjadi karena matahari-bumi-bulan membentuk sudut (elongasi) 900.

Selain pengaruh bulan, pasang surut air laut dapat terjadi sebagai akibat dari pengaruh gempa bumi dan letusan gunung api di lautan. Air pasang tiba-tiba sebagai akibat/pengaruh gempa laut ini disebut tsunami, seperti yang terjadi di Aceh 2004. Di laut-laut yang sempit, seperti Selat Malaka dan Selat Bangka, sering terjadi air laut naik yang kadang-kadang disertai arus deras. Peristiwa ini dikenal dengan istilah beno.

Pada era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini, gerakan-gerakan air laut seperti tersebut di atas dapat dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan manusia. Misalnya:

- Arus laut telah dimanfaatkan untuk prasarana lalu lintas laut. Dengan mengikuti arah arus laut, perahu atau kapal dapat lebih cepat sampai di tempat tujuan.
- Arus laut dapat digunakan oleh para nelayan untuk mengetahui migrasi jenis-jenis ikan tertentu.
- Gelombang laut dan pasang surut dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin pembangkit tenaga listrik.

Bila teknologi ini telah dikuasai oleh bangsa Indonesia, maka hal ini dapat menjadi sumber energi yang potensial, karena pantai yang dimiliki Indonesia sangat panjang, dan luas lautannya jauh melebihi luas daratan. Untuk menjawab tantangan di atas, Pemerintah Indonesia mengupayakan beberapa hal, antara lain: mengajak para generasi muda untuk lebih mencintai kelautan, membuka jurusan Ilmu Kelautan di beberapa Perguruan Tinggi, melancarkan penerangan bahwa laut memiliki sumber kekayaan yang dapat menunjang perekonomian masyarakat dan bangsa, dan membuka kementrian yang khusus mengelola sumber daya kelautan.

Tagged as: gerakan air laut .

One comment on “Gerakan air laut

  1. hikman April 8, 2012 12:58 am

    makasih infonya gan… sangat membantu

Leave a Reply

Your email address will not be published.


4 + = twelve

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>