Sejarah kerajaan sriwijaya

Sejarah kerajaan sriwijaya – Sebelumnya kita sudah mengenal kerajaan kutai, tarumanegara, dan mataram. Sekarang kita akan mengenal tentang perkembangan Kerajaan Sriwijaya. Terutama yang berkaitan dengan peranan dan kemampuannya mengembangkan diri sebagai negara maritim dan salah satu pusat agama Budha di Asia Tenggara.

Sumber sejarah

Menurut berita Cina, sekitar abad 7M, Sriwijaya disebut-sebut sebagai kerajaan, bersama kerajaan lain di Sumatera, seperti Melayu dan Tulang Bawang. Sumber sejarah Kerajaan Sriwijaya yang mendukungnya adalah prasasti serta berita Cina dan Persia.

Prasasti
Ada beberapa prasasti yang merupakan sumber sejarah yang ditemukan di dalam negeri dan luar negeri.

a. Penemuan prasasti di dalam negeri
Ada beberapa prasasti yang ditemukan di dalam negeri. Prasasti-prasasti itu telah membuktikan keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Prasasti yng ditemukan di dalam negeri itu adalah:

- Prasasti Kedukan Bukit, di sekitar Palembang
- Prasasti Talang Tuo, di sekitar Palembang
- Prasasti Telaga Batu, di sekitar Palembang
- Prasasti Kota Kapur, di Pulau Bangka
- Prasasti Karang Berahi, di Jambi
- Prasasti Pallas Pasemah, di Lampung

Prasasti Bukit berangka tahun 605M atau 683M. Prasasti ini menerangkan perjalanan suci Dapunta Hyang dari Minangatamwan yang membawa pasukan sebanyak 20.000 orang. Dapunta Hyang melakukan perjalanan suci sambil menguasai daerah-daerah yang dilalui. Akibat kemenangannya ini Sriwijaya menjadi makmur.

Prasasti Talang Tuo berangka tahun 684M. Prasasti ini menjelaskan tentang pembuatan sebuah taman Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk. Pembangunan ini disertai doa-doa agama Budha Mahayana.

Prasasti lainnya adalah Prasasti Telaga Batu yang tidak berangka tahun. Prasasti ini menyebutkan tentang kutukan-kutukan yang seram bagi mereka yang hendak berbuat jahat dan tidak taat kepada Sriwijaya.

Prasasti selanjutnya adalah Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi. Kedua prasasti ini sama-sama berangka tahun 686M. Isinya, permintaan kepada para dewa agar menjaga kesatuan Sriwijaya, menghukum setiap orang yang hendak berbuat jahat, atau mendurhakai kekuasaan Sriwijaya.

Prasasti terakhir di dalam negeri yaitu Prasasti Pallas Pasemah. Isinya hampir sama dengan Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi. Disebutkan juga tentang didudukinya daerah Lampung Selatan oleh Sriwijaya sekitar abad 7M.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan, bahwa mula-mula pusat Kerajaan Sriwijaya bukan terletak di sekitar Palembang, tetapi di daerah Minangatamwan, yaitu di daerah pertemuan antara Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Pendapat ini diperkuat oleh adanya peninggalan di daerah itu, yaitu Candi atau Stupa Muara Takus.

Kota palembang dalam perkembangannya menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya. Ini terjadi karena berbagai kegiatan dan peranan penting pemerintahan berpusat di Palembang.

b. Penemuan prasasti di luar negeri
Prasasti yang ditemukan di luar negeri, antara lain Prasasti Nalanda di India dan Prasasti Ligor di Semenanjung Malaya Thailand.

Berita cina dan persia
Ada dua berita dari Cina dan satu berita dari Persia yang dapat dijaadikan sumber sejarah, yaitu:
- Catatan Dinasti T’ang
- Catatan I-Tsing
- Berita Persia, catatan Raihan al Biruni, seorang ahli geografi Persia

Dalam catatan Dinasti T’ang disebutkan, bahwa Sriwijaya telah beberapa kali mengirim utusannya ke negeri Cina, sekitar tahun 917M, 972M, 974M, dan 975M, juga tahun 980M dan 983M. Ketika hendak pulang, utusan itu tertahan di Kanton karena negerinya sedang berperang melawan raja Jawa.

Dalam catatan I-Tsing disebutkan, bahwa ketika hendak berziarah ke India ia singgah dulu di Sriwijaya selama enam bulan. Ia juga singgah di Melayu selama dua bulan, baru kemudian ke India. Ia berada di India selama 10 tahun. Dalam perjalanan pulang singgah lagi di Sriwijaya selama hampir kurang lebih lima tahun, untuk menerjemahkan kitab agama Budha ke dalam bahasa Cina. Dalam catatan itu dikatakan juga bahwa di India terdapat seorang pendeta besar yaitu Sakyakirti atau Dharmakirti.

Sriwijaya sebagai pusat perdagangan Asia Tenggara

Faktor-faktor yang mendorong Sriwijaya tumbuh mejadi kerajaan maritim yang cukup besar adalah seperti berikut ini.

  • Palembang terletak di muara Sungai Musi. Di hadapannya terdapat pulau-pulau yang menjadi pelindung pelabuhan, sehingga baik sekali sebagai pusat perdagangan.
  • Letaknya strategis di tepi jalur perdagangan nasional maupun internasional. Jalan dagang Indonesia bagian barat ke Indonesia bagian timur. Secara internasional terletak pada jalur perdagangan antara India dan Cina.
  • Runtuhnya KerajaanFunan di Vietnam Selatan memberi kesempatan besar bagi Sriwijaya untuk mengembangkan kekuasaannya di laut, terutama Asia Tenggara.
  • Sriwijaya mempunyai kemampuan melindungi pelayaran dan perdagangan, karena memiliki armada laut yaang kuat dan tangguh.

Karena didukung faktor-faktor di atas, berkembanglah Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang besar. Sriwijaya berhasil menguasai daerah di sekitarnya, bahkan sampaike daerah Ligor (Thailand). Daerah-daerah yang dikuasai antara lain: Tulang bawang, Kedah, Pulau Bangka, Jambi, Kra, Jawa Tengah, Tanjung pura, Lampung, dan daerah-daerah lain. Karena wilayahnya yang sangat luas dan menguasai lautuaan, Sriwijaya disebut sebagai kerajaan bertaraf nasional pertama.

Negara maritim adalah suatu negara yang lebih mengutamakan bidang perdagangan dan pelayaran. Negara maritim didukung armada laaut yang kuat guna melindungi pelayaran dan perdagangannya. Letak Sriwijaya yang sangat strategis menyebabkan banyak pedagang dari luar negeri singgah di pelabuhannya, seperti India, Persia, Birma, Filipina, dan Cina.

Sriwijaya sebagai pusat agama Budha di Asia Tenggara

Pada masa kejayaan Sriwijaya, sebagian besar penduduk di Asia Tenggara menganut agama Budha Hinayana maupun Mahayana. Di Sriwijaya Mahayana dijadikan sebagai agama resmi. Akibat ramainya perdagangan, Sriwijaya lambat laun menjadi pusat agama Budha di Asia Tenggara. Di Sriwijaya banyak didirikan vihara untuk tempat tinggal para Bhiksu. Bahkan, didirikan pula perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu dan budaya India. Ada guru besar agama Budha yaitu Sakyakirti ataupun Dharmakirti.

Perguruan tinggi tersebut terkenal sampai ke luar negeri, sehingga setiap orang yang ingin memperdalam agama Budha ke India di Anjurkan singgah terlebih dahulu di Sriwijaya untuk memperdalam ajaran-ajaran ilmu agama dan ilmu bahasa sebagai persiapan, sebelum berangkat ke India. Sriwijaya dapat disebut sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Hubungan Sriwijaya dengan negara lain

Hubungan Sriwijaya dengan negara lain dijelaskan oleh beberapa sumber di antaranya adalah Prasasti Nalanda. Dalam prasasti ini disebutkan, bahwa Raja Balaputradewa memperoleh hadiah tanah dari Raja Dewapaladewa untuk mendirikan sebuah biara bagi kepentingan peziarah-peziarah Sriwijaya yang datang ke India, maupun bagi para Bhiksu Sriwijaya yang sedang belajar di Perguruan Tinggi Nalanda. Jadi, telah terjalin hubungan antara Sriwijaya dan Kerajaan Pala. Hubungan itu terutama dalam bidang agama. Hal ini terjadi sekitar abad ke-9M.

Sriwijaya juga mengadakan hubungan dengan Kerajaan Colamandala. Terbukti bahwa setelah Raja Sri Sudamaniwarmadewa digantikan olah Marawijayotunggawarman, berusaha mengadakan hubungan persahabatan dengan kerajaan Colamandala. Mula-mula hubungan berlangsung dengan baik. Hubungan itu bertujuan memperkuat Sriwijaya dari kekuasaan Dharmawangsa di Jawa. Hubungan persahabatan tersebut berubah menjadi permusuhan pada sekitar tahun 1023M. Pada saat itu Sriwijaya diperintah olah Sri Sanggaramawijayatunggawarman. Raja Colamandala saat itu adalah Rajendracoladewa. Serangan itu berlangsung beberapa kali yaitu tahun 1023M, 1030M, dan tahun 1068M.

Selain berhubungan dengan India, Sriwijaya juga mengadakan hubungan dengan Cina. Hal ini dapat diketahui dari berita Cina, seperti yang diterangkan di atas . Sriwijaya telah beberapa kali mengirimkan utusannya ke negeri Cina pada tahun 1028M atas perintah Raja Sri Dewa.

Kemunduran dan keruntuhan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya mulai mengalami kemunduran pada abad ke 13M. Kemunduran ini terjadi karena adanya beberapa faktor, di antaranya adalah faktor alam, ekonomi, politik, dan militer.

a. Faktor Alam
Ditinjau dari faktor alam, Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran karena kota Palembang semakin jauh dari laut. Hal tersebut terjadi karena adanya pengendapan lumpur yang dibawa oleh Sungai Musi dan sungai lainnya. Hal ini menyebabkan kapal-kapal dagang yang datang ke Palembang semakin berkurang.

b. Faktor Ekonomi
Ditinjau dari faktor ekonomi, kota Palembang yang semakin jauh dari laut menjadi tidak strategis lagi. Karena tidak banyak kapal dagang yang singgah, sehingga kegiatan perdagangannya menjadi berkurang. Akibatnya pajak sebagai sumber pendapatan semakin berkurang. Hal ini memperlemah posisi Sriwijaya.

c. Faktor Politik
Perekonomian Sriwijaya yang semakin lemah itu menyebabkan Sriwijaya tidak mampu lagi mengontrol daerah kekuasaannya. Akibatnya, daerah-daerah bawahannya berusaha untuk melepaskan diri.

d. Faktor Militer
Dalam segi militer, kemunduran Sriwijaya disebabkan adanya serangan militer dari kerajaan lain antaranya sebagai berikut.

  • Adanya serangan Dharmawangsa pada tahun 992M.
  • Adanya serangan dari Kerajaan Colamandala yang berlangsung tiga kali, yaitu pada tahun 1023M, 1030M, dan 1068M.
  • Pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, Kerajaan Singasari menduduki Melayu.
  • Pendudukan oleh Majapahit sekitar tahun 1377M.

Akibat beberapa serangan tersebut, berakhirlah peranan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim sekaligus sebagai kerajaaan yang bertaraf nasional pertama.

Tagged as: sumber sejarah kerajaan sriwijaya . faktor pendorong berdirinya kerajaan sriwijaya . mengapa kerajaan sriwijaya disebut kerajaan nasional pertama . kerajaan sriwijaya mengalami kemunduran dengan adanya serangan dari kerajaan .

One comment on “Sejarah kerajaan sriwijaya

  1. blakijuyopoinus October 10, 2012 1:05 pm

    apaji bedeng

Leave a Reply

Your email address will not be published.


× one = 5

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>