Sejarah uang di indonesia

Sejarah uang di indonesia – Setiap hari, mulai pagi hingga petang manusia sibuk dengan pekerjaannya. Pedagang sibuk mengurus dan menjual barang dagangannya, seorang dokter dan perawat sibuk mengobati pasien, pegawai kantor sibuk dengan pekerjaannya di kantor, karyawan perusahaan sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan, dan lain-lain.

Untuk apakah mereka sibuk bekerja? Jawabannya sama, yaitu untuk mendapatkan uang. Karena uang dapat digunakan untuk membeli semua kebutuhan hidupnya. Di zaman modern, uang menjadi sarana yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Sebelum kita mengenal uang seperti sekarang, uang mempunyai sejarah yang sangat panjang. Untuk dapat memahami arti dan fungsi uang, terlebih dahulu kita harus memahami sejarah terjadinya uang. Sejarah terjadinya uang dapat dibagi menjadi beberapa tahap berikut.

Tahap tukar menukar barang (Barter)

Sebelum manusia mengenal hidup bermasyarakat mula-mula semua keburtuhan hidupnya dicukupi sendiri tanpa bantuan orang lain. Setelah kehidupan semakin maju, manusia menyadari bahwa mereka tak mungkin memenuhi semua kebutuhan hidupnya sendiri. Oleh karena itu, mereka kemudian saling bertukar barang, misalnya kelapa ditukar beras atau buah ditukar dengan ikan. Tukar menukar antara barang dengan barang disebut barter, dan inilah awal mula terjadinya uang.

Syarat-syarat terjadinya barter:

  • Orang yang diajak bertukar barang memiliki barang yang dibutuhkan oleh orang yang mengajak bertukar barang.
  • Orang yang diajak bertukar barang membutuhkan barang yang akan ditukarkan oleh orang yang akan mengajak bertukar barang.
  • Barang yang akan ditukarkan dianggap mempunyai nilai sama.

Contoh:
Seseorang mempunyai beberapa ekor ayam jantan, tetapi ia ingin memiliki ayam betina. Ada juga seseorang memiliki beberapa ekor ayam betina, tetapi ia ingin ayam jantan. Kebetulan kedua orang tersebut saling bertemu dan setuju untuk mengadakan tukar menukar, yaitu seekor ayam jantang ditukar dengan seekor ayam betina.

Pertukaran semacam ini dasarnya hanya suka sama suka dan bersifat kebetulan. Nilai seekor ayam jantan juga hanya sama nilainya dengan seekor ayam betina. Memang dalam pertukaran (barter) barang dengan barang (innatura), belum ada satuan ukuran nilai yang pasti.

Kelemahan pertukaran innatura, antara lain:

  • Kesulitan mencari lawan tukar karena pertukaran terjadi dasarnya suka sama suka;
  • Pertukaran sifatnya hanya kebetulan;
  • Tidak ada satuan ukuran nilai yang pasti.

Tahap tukar menukar dengan perantara uang barang

Setelah dunia semakin maju, barter tidak dapat lagi dilakukan. Hal ini disebabkan semakin sulit menemukan orang yang memenuhi syarat untuk bisa diajak saling bertukar barang. Oleh karena itu, kemudian timbul cara tukar menukar yang baru, yaitu tukar menukar dengan perantara uang barang. Masyarakat pada waktu itu menetapkan suatu jenis barang tertentu yang saling disepakati sebagai uang.

Syarat agar suatu barang diterima sebagai uang barang:

  • Dapat diterima dan dibutuhkan semua orang, dan
  • Setiap saat dapat ditukarkan kepada siapa pun.

Contoh barang yang disepakati sebagai uang barang, antara lain ternak, beras, garam senjata, tembakau, dan kelapa. Akan tetapi, cara tukar menukar yang baru ini pun ternyata menimbulkan kesulitan dan dianggap tidak praktis.

Kesulitan yang timbul adalah uang barang:

  • Tidak dapat dibagi menjadi bagian yang bernilai lebih kecil,
  • Sulit di bawa ke mana-mana,
  • Mudah rusak atau tidak tahan lama,
  • Tidak praktis disimpan atau membutuhkan tempat yang luas, dan
  • Nilainya bisa berubah-ubah sehingga sulit dijadikan patokan.

Tahap tukar menukar dengan perantara uang

Manusia terus berusaha mencari suatu barang yang dapat mempermudah kegiatan tukar menukar. Barang yang dicari harus memiliki sifat-sifat antara lain:

  • Dapat diterima oleh siapa saja,
  • Dapat bertahan lama/tidak mudah rusak,
  • Mudah disimpan,
  • Mudah dibawa ke mana-mana,
  • Mudah dibagi-bagi menjadi bagian yang bernilai kecil namun tidak mengurangi nilai sebenarnya,
  • Memiliki nilai yang tetap (tidak cepat berubah), dan
  • Jumlahnya terbatas.

Barang yang memiliki sifat-sifat tersebut ialah logam mulia, terutama emas dan perak. Oleh karena itu, emas dan perak disepakati sebagai uang. Akan tetapi, uang emas dan perak ternyata masih menimbulkan kesulitan karena membawa uang emas/perak dalam jumlah besar ternyata berat. Oleh karena itu, diciptakan uang kertas seperti yang sekarang kita gunakan.

Di indonesia ada bermacam-macam uang yang pernah dipergunakan dan beredar luas di masyarakat. Sejarah uang di Indonesia secara singkat dapat dikemukakan sebagai berikut:

  • Pada zaman kerajaan Janggala (tahun 896-1158), mata uang yang digunakan adalah mata uang krisnala, terbuat dari emas dan tembaga atau campuran tembaga dan kuningan.
  • Pada abad ke-16 dikerajaan Sulawesi beredar mata uang kampua (bida). Mata uang ini terbuat dari hasil tenunan putri raja pada waktu itu.
  • Pada abad ke-18 di Banjarmasin beredar mata uang yang terbuat dari tembaga.
  • Pada zaman Belanda, setelah VOC masuk Indonesia, mata uang yang beredar dan digunakan di Indonesia adalah mata uang gulden (f). Akan tetapi, di daerah banyak orang yang membuat mata uang sendiri-sendiri dan hanya berlaku secara lokal.
  • Pada masa pendudukan Jepang, uang yang digunakan di Indonesia ialah mata uang ORI. Mata uang ORI berlaku terutama di Jawa. Sedangkan banten mata uang ORIDAB, Sumatera dan Aceh mata uang ORIPSA, Sumatera selatan mata uang ORIPS, dan Tapanuli mata uang ORITA.
  • Pada masa kemerdekaan, mata uang yang digunakan ialah rupiah. Uang rupiah pertama kali dibuat dan diedarkan pada tanggal 17 Oktober 1945, dan sampai saat ini masih berlaku.

 

Tagged as: sejarah uang di indonesia . uang barter .

Leave a Reply

Your email address will not be published.


two − = 0

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>